|
Indonesia adalah salah satu dari 10 besar produsen utama tembakau. Sumbangan tembakau terhadap perekonomian nasional cukup
tinggi. Pada tahun 2002 penerimaan cukai dari tembakau mencapai Rp. 23,30 triliun, penyerapan tenaga kerja 3,5 juta orang
pada sekor pertanian, 150 orang pada sektor industri, 350.000 orang pada sektor jasa. Areal tembakau Indonesia rata-rata 200.000
hektar per tahun. Produksi tembakau mencapai 120.000 ton/tahun. Dengan harga antara Rp. 3.000,00 s.d. Rp. 60.000,00. Tuntutan
penurunan kadar nikotin dan tar merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat pertembakauan saat ini. Oleh karena
itu, dalam penelitian-penelitian tembakau kadar nikotin juga merupakan salah satu prioritas utama. Tembakau Temanggung Varietas Untuk
meningkatkan mutu dan produktivitas tembakau temanggung telah dirakit dua varietas unggul yaitu Sindoro 1 dan Kemloko 1 dengan
produktivitas masing-masing 899 dan 859 kg per hektar atau 17,5 dan 12% lebih tinggi dari varietas lokal. Galur Unggul Balittas
telah merakit galur unggul yang siap dilepas sebagai varietas unggul tahan terhadap penyakit lincat yaitu galur BC3-C51. Galur
ini dapat menekan serangan layu bakteri dari 29% menjadi hanya 14%, dan serangan nematoda dari 9% menjadi 6%. Selanjutnya
galur tersebut juga meningkatkan hasil dari 840 kg menjadi 1.100 kg per hektar dibanding dengan varietas lokal. Konservasi
Lahan Tembakau Temanggung Tembakau temanggung sangat dibutuhkan pabrik rokok keretek. Sampai saat ini masih terjadi kekurangan
produksi sekitar 7.000-10.000 ton/tahun yang harus dipenuhi dari daerah lain. Penyebab rendahnya produksi dan produktivitas
tembakau temanggung adalah erosi yang mencapai 47,5 ton/ha/tahun dan meluasnya penyakit lincat yang disebabkan oleh nematoda
puru akar dan bakteri Pseudomonas. Untuk meningkatkan pro-duktivitas tembakau temanggung Balittas telah menerapkan teknologi
konservasi lahan dan pengendalian penyakit lincat mulai tahun 2000 dan pada tahun 2002 mencapai 20 ha lahan petani dengan
kemiringan 40-60%. Teknik konservasi yang diterapkan adalah penanaman rumput setaria pada bibir saluran pemotong dan tanaman
flemingia pada bidang vertikal saluran pemotong lahan dan dibuat rorak pada saluran pemotong lahan sepanjang 0,5 m dengan
jarak antar rorak 10 m. Pengolahan tanah sebelum penanaman tembakau dilakukan secara minimal, langsung dibuat guludan-guludan
kowakan tempat pupuk kandang. Pengendalian penyakit lincat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan BC3-C51 dan menyemprotkan
mikrobia antagonis di sekitar lubang tanam. Sampai dengan tahun 2002 teknologi yang diterapkan ini dapat menekan erosi
25,2 - 44,8%, menekan penggunaan bahan organik, N, P, dan K sebesar masing-masing 31,2 - 47,6%; 22,1 - 57,1%; 27,3 - 45,3%;
dan 14,0 - 17,3%. Kematian tanaman tembakau berkurang 12,5 - 42,0% dan hasil tembakau rajangan kering bertambah 120 kg/ha
dengan peningkatan mutu sebesar 7,5%, sehingga terjadi kenaikan pendapatan petani lebih dari Rp. 3.000.000,00/ha (24,9%).
|
 |
|